Tags

Big Ben

Setelah cukup terkejut (bercampur kesal sedikit) saat mengetahui kalau Buckingham Palace bisa dicapai dengan menyeberang jalan saja dari Hyde Park Corner melewati Constitution Hill, kami memutuskan untuk menuju Westminster. Cukup dengan 1 kali bus bisa langsung sampai ke Westminster. Untuk itu kami menunggu di halte dekat gate Constitution Hill yang berseberangan dengan Hyde Park Corner

Hyde Park Corner adalah seperti bundaran yang merupakan persimpangan antara KnightsBridge, Park Lane, Piccadilly, Constitution Hill, dan Grosvenor Place. Kendaraan yang melintasi ke-5 area tersebut di atas pasti melintasi Hyde Park Corner. Jadi mirip dengan bundaran Simpang Lima Semarang lah kira-kira. Di Hyde Park Corner terdapat Wellington Arch sebuah gate berbentuk bangunan yang didesign oleh Decimus Burton sebagai memorial dari Duke of Wellington, seorang pemimpin militer dan perdana mentri Inggris di awal abad 19. Selain Wellington Arch terdapat pula memorial lainnya di Hyde Park Corner, yaitu The Australian War Memorial, The New Zealand War Memorial, Machine Gun Corps Memorial, dan The Royal Artillery Memorial. 

Setelah menunggu beberapa menit, bus kami tunggu tiba. Bus melintasi Grosvenor Place dan Victoria Station, rute dan tempat yang sudah saya kenal dengan baik saat mencari-cari Buckingham Palace. Dari Victoria Station bus melintasi Victoria Street jalan yang diapit oleh banyak bangunan kuno. Sempat terlihat oleh saya Westminster Cathedral, gereja Katholik terbesar di Inggris yang bentuknya seperti mesjid. Umurnya sudah lebih dari 1 abad sejak awal dibangun tahun 1895.

Tidak hanya di Victoria Street saja, tapi hampir sebagian besar jalan yang saya lewati di London terdapat bangunan kuno yang berusia ratusan tahun yang terawat dengan baik. Penghargaan bangsa dan negara terhadap sejarah bisa dilihat dari sini. Komitmen negara terhadap pelestarian sejarah juga tinggi. Di Indonesia, bangunan kuno banyak yang dirubuhkan diganti dengan bangunan baru. Banyak pula bangunan kuno yang rusak terbengkalai sehingga menumbuhkan kesan kumuh dan jorok. Kawasan Kota Lama Semarang adalah bukti nyata akan hal ini (lihat photo). Walaupun sekarang ini, beberapa bangunan di Kota Lama mulai dipugar dan terawat baik, tak sedikit bangunan kuno peninggalan Belanda yang merana tak terawat. Ditambah lagi area ini kerap disinggahi rob air laut dan banjir serta saat malam hari menjadi tempat mangkal para prostitusi kelas kambing. Lengkaplah sudah stempel kumuh yang melekat pada area ini. 

Announcement dalam bus menginformasikan halte Westminster Abbey. Saya pun bersiap turun. Hujan masih rintik-rintik disertai angin. Udara masih terasa dingin. Badan saya terbalut oleh baju, sweater, jaket, dan syal yang terlilit di leher. Di kepala sudah menancap beanies alias topi kupluk yang cukup melindungi dari tetesan air hujan. Satu-satunya yang terlewat adalah sarung tangan kulit. Berdasarkan referensi yang saya baca, sarung tangan kulit cukup penting untuk melindungi diri dari kedinginan. Justru pelindung yang penting ini malah terlewatkan oleh saya. Di Semarang saya tak berhasil menemukan perlengkapan dingin ini walau sudah kemana-mana. Di London, saya tak mampu beli. Dompet saya terlalu cekak untuk mengkonversi uang dalam bentuk pounds

Westminter Abbey Church (left)

 

Di sekitar Westminster memang dipenuhi oleh bangunan-bangunan kuno. Beberapa di antaranya; Methodist Central Hall, St Margaret’s Church, Westminster Abbey, Houses of Parliament, dan Big Ben yang memang merupakan salah landmark kota London. Ini juga alasan utama kenapa saya memutuskan ke Westminster karena di sekitarnya terdapat banyak beberapa objek wisata termasuk Big Ben yang tersohor itu. Di Bukittinggi saya sudah ke Jam Gadang, maka kini di London giliran saya harus ke tempat jam lebih big dari Jam Gadang, Big Ben

Westminster Abbey adalah tujuan pertama setelah turun di halte bus. Dari halaman gereja gothic terbesar di Westminster ini, jarum jam Big Ben sudah dapat terlihat. Saya mengambil beberapa gambar dari sini untuk selanjutnya melewati lapangan rumput menuju ke St Margareth’s Church, gereja yang dibangun pada abad 16, tepatnya tahun 1523. Keluar dari halaman gereja, melintasi trotoar saya berjalan menuju pertigaan Abingdon Street. Tampaklah Westminster Palace atau yang juga dikenal sebagai Houses of Parliament di seberang jalan. Disebut demikian karena secara historis sebagian bangunan ini memang berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan dan sebagian lagi sebagai gedung parlemen. Westminster Palace benar-benar bangunan kuno yang indah nan mengagumkan. Bangunan bergaya gothic dengan dinding yang seolah-olah terukir dengan bentuk ornamen yang mengagumkan. Saya tak henti-hentinya mengagumi bangunan kuno di London. Begitu banyak dan terawat dengan baik. Baik Westminster Abbey, St Margareth’s Church, dan Westminster Palace ketiganya tercatat sebagai bangunan warisan peninggalan sejarah yang dilindungi oleh UNESCO. 

Saya berjalan mengitari Westminster Palace menuju Westminster Bridge. Di samping Westminster Palace inilah berdiri menara tinggi yang paling terkenal dibanding 2 menara lain yang ada di Westminster Palace. Westminster Palace memiliki 3 menara; Victoria Tower, Central Tower, dan Clock Tower yaitu menara tinggi menjulang yang di bagian atas terdapat jarum jam yang berdetak mengiringi waktu. Menara yang lebih dikenal dengan sebutan Big Ben. 

Big Ben berada tak jauh dari Westminster Bridge yang di bawahnya mengalir River Thames, sungai besar yang membelah kota London. Arsitektur Big Ben bergaya gothic yang bernuansa arsitektur sama dengan Westminster Palace. Menara jam yang menjulang dengan tinggi 96.3 meter ini dirancang oleh Charles Barry, arsitek yang juga merancang Westminster Palace, dan selesai dibuat tahun 1859. Big Ben sendiri sebenarnya adalah nama kecil dari lonceng yang terletak di dalamnya. Di bagian bawah jam di keempat sisi menara terdapat tulisan Salvam Fac Reginam Nostram Victoriam Primam yang artinya Oh Tuhan, lindungi Ratu Victoria Pertama. Jerman pernah membom Westminster Palace pada 1941 yang menghancurkan 2 sisi muka jam. Namun saat itulah kehebatan dan ketangguhan Big Ben teruji karena jarum jam Big Ben tetap berjalan normal! 

Sore itu sekitar jam setengah 5 sore, namun hari sudah beranjak gelap. Hujan telah lama berhenti namun hembusan angin sungguh membuat badan menggigil. Westminster Bridge masih dipenuhi oleh orang-orang yang saya yakini sebagai turis. Kebanyakan dari mereka berkumpul di jembatan untuk berphoto-ria. Maklum lah di tempat ini terdapat beberapa objek wisata, ada Big Ben, Westminster Palace, River Thames, dan juga London Eye, kincir raksasa yang berputar sehingga dapat melihat kota London dari atas ketinggian. Mirip dengan Bianglala yang terdapat di Dufan, Jakarta.

Ada juga turis yang berhenti di jembatan untuk menyaksikan indahnya panorama kota. Saya termasuk yang turis yang sungguh menikmati suasana malam dari Westminster Bridge. Romantisnya River Thames dengan satu-dua kapal wisata yang melintas. Menyaksikan indahnya Big Ben dan Houses of Parliament di malam hari yang disinari oleh temaran cahaya lampu menyuguhkan pemandangan yang berbeda dibandingkan siang hari. Menakjubkannya London Eye di waktu malam karena ditemani gedung yang terdiri dari Movieum, Dali Universe, dan London Aquarium yang memancarkan 3 cahaya yang berbeda, kuning, merah, dan hijau. Wow, indahnya!! 

Jam menunjukkan pukul setengah 8 malam, saat saya dan teman saya telah puas menikmati suasana malam itu. Westminster Bridge telah sepi dari turis. Agak kaget juga saya saat tahu kalau aktivitas kota London sudah sepi pada jam segitu. Angin berhembus bebas tanpa halangan di Westminster Bridge menambah dinginnya malam. Udara malam itu terlalu dingin menyergap tubuh manusia yang terlahir di daerah tropis.

Malam terlalu cepat datang di London yang membuat saya tak punya cukup waktu untuk ke Downing Street 10, tempat kediaman PM Inggris atau ke Trafalgar Square yang sebenarnya tak terlalu jauh dari Westminster Bridge. Tak apalah, toh kami pun harus bersiap dan beristirahat cukup karena jam 6 pagi esok hari harus berangkat ke Bandara Heathrow menuju tanah air. Saya kembali ke hotel dengan membawa pengalaman tentang indahnya London walaupun lelah karena seharian menghadapi hujan dan menahan dingin. 

  

Banyumanik, 7 Februari 2010  

Photo-photo selengkapnya…klik di sini 

 

Artikel sebelumnya; 

LONDON (1); TERPERANGKAP HUJAN DI HYDE PARK CORNER 

LONDON (2); BANYAK JALAN MENUJU BUCKINGHAM