Tags

East Front Buckingham Palace

Karena hujan tak kunjung berhenti, saya memutuskan ke Victoria Street saja. Alasanya, saat melihat peta di halte bus, Victoria Street dekat dengan Buckingham Palace. Halte bus di London selalu dilengkapi dengan peta dan daftar bus beserta dari dan tujuan. Bahkan beberapa halte dilengkapi dengan papan digital yang menginformasikan berapa menit lagi bus yang berhenti di halte itu akan tiba di halte. Cukup membantu turis yang kebingungan seperti saya ini. Hampir semua bus yang berhenti di halte tempat saya menunggu melewati Victoria Street dan hanya dalam beberapa menit kami sudah sampai di Victoria Station. Karena masih belum tahu ke mana Buckingham Palace, saya ke dalam melihat-lihat stasiun. Entah kenapa saya jadi teringat stasiun blok M, walaupun Victoria Station relatif lebih besar dan lebih bersih. 

Keluar dari Victoria Station hujan masih turun walau tidak sederas saat di Hyde Park Corner. Dengan mengandalkan papan penunjuk jalan, saya tetap belum menyerah menemukan Buckingham Palace. Dari Buckingham Palace Road, saya berjalan kaki melewati Victoria Square, melintasi beberapa toko yang menjual souvenir. Saya terus berjalan dan saat di Buckingham Gate hujan makin deras. Tak ada jalan lain, saya harus berteduh. Berjalan cepat saya hingga sampai di sebuah teras yang ternyata adalah The Queen’s Gallery and Shop. Boleh juga nih sambil menunggu hujan reda melihat-lihat gallery, pikir saya. Saat masuk ke dalam, ternyata ini bukan gallery gratis. Saya tidak ingat pasti berapa tiket masuknya, tapi sekitar 10 pounds. Turis cekak dari Indonesia ini pun mundur. Cukup berteduh di teras gallery saja sambil menunggu hujan reda. 

Hujan tak kunjung berhenti. Saya tak sendiri. Banyak juga turis-turis lain yang berteduh di depan gallery. Kalau cuaca cerah, mungkin saya sudah berkunjung ke beberapa tempat. Tapi tak ada gunanya menyesali cuaca. Saya harus tetap menikmati hari jalan-jalan ini. Setelah cukup lama berteduh di teras, saat agak reda saya dan teman saya memutuskan untuk jalan lagi. Baru berjalan beberapa meter, akhirnya ketemu juga nih bangunan yang saya cari dengan susah payah. Dari gallery saya berbelok ke kiri memasuki pelataran yang luas. Ada sebuah bundaran dan di belakang bundaran berdiri bangunan megah yang dikelilingi pagar tinggi. Di salah satu prasasti dekat pagar tertulis BUCKINGHAM PALACE

Walaupun hujan-hujan begini tetap saja banyak turis yang datang untuk melihat istana yang dibangun pada tahun 1703 ini. Di sebut Buckingham karena bangunan ini dulunya adalah tempat tinggal dari Duke of Buckingham. George III pada 1761 memperuntukkan bangunan ini untuk tempat tinggal pribadi Queen Charlotte dan menamakannya The Queen’s House. Secara resmi Buckingham Palace menjadi istana kediaman resmi keluarga Kerajaan Inggris  pada tahun 1837 oleh Queen Victoria. Bagian depan dari istana (east front) merupakan perluasan dari bangunan aslinya. Saat Queen Victoria menikah dengan Prince Albert (1840), pasangan ini merasa bangunan istana yang ada terlalu kecil. Pada 1847, John Nash mendesign ballroom wing dan Edward Blore merancang perluasan bangunan East Front termasuk balkon yang biasa digunakan keluarga kerajaan untuk menyapa rakyat. Pada 1913, East Front dirancang ulang oleh Sir Aston Webb pada masa King George V dengan design seperti yang terlihat pada saat sekarang. Bagi saya, Buckhingham Palace merupakan perpaduan bangunan tua, seni arsitektur, nilai history yang tinggi, serta komitmen negara dalam menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. 

Victoria Immemorial

Saya mencoba memotret bangunan istana. Namun tak mudah memang mengambil gambar saat hujan. Berulang kali saya harus memotret ulang karena lensa kamera yang berulang kali basah terkena air hujan. Di depan Buckingham Palace terdapat bundaran yang merupakan sebuah monumen yang dikelilingi  air mancur. Keempat sisi monumen dihiasi patung-patung manusia berwarna putih. Pada puncak monumen terpahat patung berwarna emas. Monumen ini disebut The Victoria Immemorial yang dibuat tahun 1911 oleh pemahat Sir Thomas Brock

Hujan memang tak berkompromi. Hujan turun makin deras. Tidak ada tempat berteduh di pelataran terbuka Buckingham Palace. Saya melihat gubuk yang menjual minuman dan makanan seperti hot dog dan burger di Green Park. Green Park adalah taman di sekitar Buckingham Palace. Buckingham Palace sendiri sebenarnya dikelilingi oleh 3 taman yang luas sekali, yaitu Green Park, Buckingham Garden, dan St James Park. Hujan tidak memungkin lagi bagi saya untuk melihat-lihat Buckingham Palace lebih lama karena area terbuka di depan istama pasti akan membuat saya basah kuyup. Saya dan teman memutuskan untuk berkunjung ke tempat lain saja. 

Kami keluar dari Green Park melalui Constitution Hill, sebuah jalan bagi yang memisahkan Buckingham Garden dan Green Park.  Jalur ini di apit oleh pepohonan yang saat itu tertutupi oleh daun pepohonan yang gugur karena memang saat itu sedang musim gugur. Saya sungguh menyukai pepohonan yang berwarna-warni selain hijau. Hampir seluruh hamparan rumput, trotoar, dan jalan tertutup oleh daun-daun pohon yang memang ditakdirkan untuk rontok pada musimnya. Daratan rumput hijau pun berubah warna menjadi oranye, kuning, dan coklat. Wow, sungguh pemandang yang benar-benar indah! Tiba di ujung Constitution Hill yang berujung di jalan raya, saat melihat ke seberang jalan raya, saya melihat tempat yang familiar dan sudah saya kunjungi sebelumnya. Lho, itu khan Hyde Park Corner!! Artinya dari Hyde Park Corner ke Buckhingham Palace sebenarnya cukup dengan menyeberang jalan dan bisa langsung sampai di gate Green Park. Ngapain saya sampai muter-muter ke Victoria Station segala, pake jalan kaki plus kehujanan lagi. Emang bener apa kata orang, malu bertanya muter-muter di jalan dan kehujanan pula. 

(bersambung)….klik di sini  

Banyumanik, 31 Januari 2010

 

Artikel sebelumnya;

LONDON (1); TERPERANGKAP HUJAN DI HYDE PARK CORNER

Photo-photo selengkapnya…klik di sini