Tags

Hal lain yang menarik di Cebu adalah cara berpakaian kaum wanita. Sering sekali saya jumpai para wanita yang mengenakan pakaian kaos ”you can see” alias kaos tanpa lengan. Kaum hawa di sana menyebutnya dengan spaghetti blouse. Variasinya bermacam-macam. Mulai dari kaos tanpa lengan dengan tali pundak yang lebarnya sekitar 10 centi sampai yang lebarnya cuma 1 centi,  sampai tali bra-nya jadi susah disembunyikan. Pemandangan seperti ini bisa dilihat di mal-mal, di jalanan, atau bahkan dalam pabrik sekalipun. Kelihatannya seperti sudah menjadi pakaian rutin. Kaos model begini dikenakan oleh wanita muda maupun tua, mulai dari wanita cantik semampai atau oleh wanita gemuk yang besar lengannya nggak kalah dengan lengan Ade Rai. Jika dikenakan oleh wanita semampai, pakaian kayak begini memang menguji iman juga. Namun jika dikenakan oleh wanita yang lengannya segede Ade Rai, nah ini, bisa ada “efek sampingnya”🙂. Mungkin masyarakat di Cebu sudah terbiasa dengan pakaian seperti ini. Mungkin karena mereka ingin tampil seksi atau karena mahalnya harga kain di Cebu, entahlah, saya nggak begitu mengerti. Di Indonesia saya juga menjumpai hal yang sama, tapi tak sesering yang saya lihat saat di Cebu.

Sering juga saya lihat para wanita juga mengenakan celana pendek di atas lutut atau rok mini di atas lutut.  Para pramuniaga mall, umumnya mengenakan rok mini di atas lutut. Selain itu, hal yang sama dengan mudahnya akan dijumpai di restoran, angkutan umum, pusat perbelanjaan atau di jalan-jalan. Hal seperti ini sudah menjadi pemandangan umum di sana.

 

Selama di Cebu, beberapa kali penduduk di sana berbicara dengan saya dengan bahasa setempat. Mereka mengira saya orang Philipina.  Secara fisik orang Indonesia sangat mirip dengan orang Phillipina. Maka tak heran beberapa orang berbicara dengan saya dalam bahasa setempat, Cebuano. Dalam sisi bahasa, ada beberapa kata mirip dengan atau bahkan sama persis kata dan maknanya dengan kata Indonesia. Misalnya, putih, langit, mata, atas, lima, mahal adalah contoh beberapa kata yang maknanya sama persis dengan bahasa Indonesia. Atau kata lain yang mirip, seperti ilung (hidung), talinga (telinga), duha (dua), atau pinto (pintu).

Di bandara Cebu, saat melewati gate detector, saya bingung di mana harus meletakkan handphone. Sebabnya tidak disediakan keranjang. Petugas mengintruksikan sesuatu yang tentu saya tidak mengerti. Saya jawab, “in english, please“. Dia pun menjawab, “I am sorry, sir. Put your sell phone in your bag, please!” Oh sampeyan ngomong ini toh, kata saya dalam hati. “What is your nationality, sir?” tanya petugas itu ramah. “Indonesian”, jawab saya.

Hal yang sama terjadi saat saya check in di bandara. Gadis manis petugas check in itu sampai bertanya “You are not Pilipino?” Ia heran mengapa saya menggunakan bahasa Inggris. Saya menggelengkan kepala. “You can see from my name and my destination in that ticket”, jawab saya sambil berlalu menuju terminal untuk menunggu pesawat yang akan membawa saya meninggalkan Cebu menuju Manila lalu ke Jakarta. “Adios Cebu, salamat, pok.”  (HABIS)  

 

Mactan-Cebu, 7 Februari 2008

Artikel sebelumnya: CERITA NAIK TAKSI DI CEBU