Tags

picture taken from http://www.livingincebu.com

Selain jeepney, transportasi lain yang bisa digunakan adalah Taksi. Jika ingin naik taksi ada baiknya anda memperhatikan hal berikut. Menurut supir taksi yang membawa yang membawa saya dari Basilica del Santo Nino, tarif buka pintu berbeda-beda, tergantung tahun keluaran mobilnya. Semakin baru semakin mahal. Taksi dengan merek Nissan sekitar 30 peso, Toyota XE/Vios sekitar 60 peso, dan Toyota Altis sekitar 100 peso. Masih menurut supir taksi itu, ongkos taksi dibedakan karena semakin baru mobilnya otomatis semakin nyaman. Tapi sebagai “turis” dengan modal pas-pasan, saya lebih memilih naik taksi tua, yang penting murah dan sampai tujuan, bukan sampai ke rumah sakit.

Saat pergi dari hotel ke Basilica del Santo Nino, menggunakan Taksi merk Nissan, ongkosnya 110 peso dengan tarif buka pintu 30 peso. Saat pulang dari Basilica del Santo Nino menuju hotel, melalui rute yang sama, menggunakan taksi Toyota XE, ongkosnya 152.5 peso dan tarif buka pintunya 60 peso. Setelah mengecek sana-sini, akhirnya saya tahu saya termasuk ”korban” dari supir taksi nakal karena tarif buka pintu normal adalah 30 peso dan berlaku untuk semua jenis mobil taksi apapun merknya baik taksi keluaran lama atau baru! 

Hampir semua supir taksi di Cebu menggunakan t-shirt. Saya tidak pernah melihat supir taksi menggunakan kemeja rapi seperti di Indonesia. Menurut supir taksi tersebut, t-shirt tersebut adalah seragamnya. Namun agak susah bagi saya membedakan supir menggunakan seragam atau tidak karena pada t-shirt yang digunakan tidak begitu jelas tertera lambang, logo, atau tulisan nama taksi pada t-shirt yang dikenakan. Berbeda dengan para taksi di Indonesia yang menggunakan kemeja sebagai seragam. Untuk membedakan antara taksi yang beneran dan yang berandalan di Indonesia cukup mudah, yaitu dengan melihat apakah supirnya menggunakan seragam atau tidak. Supir taksi yang tidak menggunakan seragam kemeja pasti nggak akan laku karena pasti dikira taksi gelap/ilegal oleh penumpang. Rumus ini tidak berlaku di Cebu.

Jika ingin naik taksi, tanyakan dulu apakah menggunakan argo atau tidak. Jika ya, silahkan naik, jika tidak sebaiknya jangan. Selain menggunakan argometer, taksi di Cebu juga bisa dibayar dengan hitungan per jam. Biasanya supir akan menawarkan untuk mengantar kita ke tempat wisata yang diinginkan. Penumpang akan membayarkan berdasarkan lamanya kunjungan kita ke beberapa tempat yang disepakati. Tarif yang sempat ditawarkan ke saya 250 peso per jam yang kontan saya tolak mentah-mentah. Menurut saya, naik taksi di Indonesia relatif lebih nyaman, tenang, dan aman dibandingkan di Cebu dan Manila. Cukup memilih taksi yang terpercaya, lihat supirnya pakai seragam atau tidak, beres. Di Cebu dan Manila, rumus ini tidak berlaku.

Di Manila, ongkos taksi dari internasional airport ke domestik airport 150 peso padahal jaraknya kurang dari 5 kilometer dan perjalanan kurang dari 10 menit. Ini adalah tarif resmi taksi bandara. Kalau bukan taksi bandara, siap-siaplah mengeluarkan jurus tawar-menawar yang canggih supaya mendapat harga yang tidak mahal atau wajar (kalau mengharapkan harga murah, lupain aja deh). Anda juga sebaiknya menyiapkan peso dalam pecahan kecil, seperti 10, 20, 50, dan 100 peso.

Saat saya di Manila, saya cuma punya pecahan 500 peso. Supir taksi akhirnya menukarkannya dengan pecahan 100 peso. Namun ongkosnya adalah 150 peso. Artinya saya harus punya pecahan 50 peso, kecuali saya ikhlas membayar dengan 200 peso. Supir akan bilang ia tidak punya kebalian 50 peso. Saya yang merasa curiga ini bagian dari taktik supir supaya saya membayar lebih, maka saya nekat menukarkan uang 100 peso saya ke orang-orang sekitar bandara. Akhirnya ada juga yang bersedian menukarkan uangnya dan saya bisa menukar 100 peso tersebut dengan pecahan 50, 20, dan 10 peso. Saat uang saya berikan ke supir taksi, ia menarik uang itu dengan kasar. Mungkin ia kesal karena saya tidak mau memberinya uang lebih. Tapi saya tidak peduli. Emang gampang mo ngerjain orang! Saya sudah hapal ngadepin tabiat supir taksi seperti ini di Indonesia. (bersambung…..click here)  

 

Mactan-Cebu, 5 Februari 2008

Artikel sebelumnya: AYAM LAGI, AYAM LAGI…