Tags

Bulalo

Jika perut sudah terasa lapar, mencari makanan merupakan pekerjaan gampang-gampang susah. Gampang karena tempat-tempat makan tersedia di berbagai tempat, mulai dari warung pinggir jalan, restoran cepat saji, maupun restoran kelas atas. Susah karena jika anda ingin makan di tempat yang relatif bersih dan nyaman, anda tidak mungkin makan di warung pinggir jalan. Kondisi warung pinggir jalan umumnya agak kotor dan kurang nyaman menurut saya. Karenanya, pilihan jatuh pada restoran menengah cepat saji. Ini tentu tidak sulit ditemukan. Yang sulit terutama bagi kaum muslim karena harus lebih berhati-hati. Umumnya di restoran cepat saji yang menyajikan berbagai makanan/masakan menyediakan daging babi dalam bentuk goreng atau panggang. Bahkan siapao atau di Indonesia dikenal dengan bakpao, isinya juga daging babi. Paling aman adalah memilih makan ayam. Selama 7 hari saya menginap di Lapu-Lapu City, selama 4 hari berturut-turut saya hanya makan ayam, baik itu goreng atau bakar. Sampai-sampai saya agak “alergi” sama hal yang berbau ayam.

Suatu malam, untuk menghindari makan ayam untuk yang kesekian kalinya, saya memutuskan untuk pergi ke tempat lain yang agak jauh dari hotel. Makanan yang dituju adalah Nasi Lemak. Dari luar saya lihat, selain Nasi Lemak, restoran itu juga menyediakan sate. Seperti yang tertera pada buku menu restoran ini khusus menghidangkan masakan Singapura dan Malaysia. Nasi Lemak pun di pesan dan dijanjikan akan dilengkapi dengan lauk udang. Apa daya, udang sedang tidak tersedia dan pelayan akan menggantinya dengan sotong. Tak berapa lama, masakan datang dan pelayan mengatakan bahwa sotongnya habis sehingga lauknya harus diganti. Sebagai gantinya ternyata ayam lagi!! Saya pun berinisiatif untuk memesan sate. Tak dinyana, sate yang dijual adalah sate ayam! Maka untuk kesekian kalinya dengan terpaksa saya harus mengunyah unggas ini demi membungkam cacing-cacing yang sudah gelisah di perut saya. Besoknya saya makan siang di kantin kantor, lauknya cuma babi dan ayam. Lagi-lagi dengan terpaksa saya harus menggigit unggas ini untuk pengganjal perut.

Jika ingin makan selain ayam sebaiknya anda bertanya dulu makanan/masakan tersebut berasal dari daging apa. Kalau tidak, bisa-bisa anda salah makan daging babi. Daging babi disajikan dalam bentuk goreng, bakar, steam, sate, atau dicampur dengan sayuran. Di sebuah restoran buffet, pada salah satu sayuran yang disajikan tertulis Vegetables with seafood. Saya lihat ada beberapa potongan daging bercampur dengan sayuran. Karena ragu, saya bertanya apakah sayuran tersebut ada daging babinya dan pelayanpun mengiyakan. Penasaran, saya menunjuk pada Stiffed Shrimps, ternyata mengandung pork. Saya pun memilih Shanghai Rice, pelayan pun bilang suwiran dagingnya adalah pork. Ada keripik seperti pangsit, pelayan bilang ada pork juga. Jadi jika ingin makan masakan yang ada campuran dagingnya, walaupun tidak tertulis “pork”, ada baiknya bertanya untuk meyakinkan. Harga daging babi lebih murah dari daging ayam. Di sebuah restoran cepat saji, harga sepotong daging babi goreng adalah 32 peso sementara ayam goreng 55 peso. 

Jika anda makan ayam goreng jangan berharap akan menemui saos cabe atau saos tomat. Saat saya makan di McDonald’s, saos yang diberikan bukan cabe atau tomat yang berwarna merah, tapi saos berwarna coklat berasa merica namun sedikit manis. Tidak ada saos cabe dan tomat di McDonald’s. Saya membeli ayam goreng di restoran cepat saji lokal, saosnya juga sama, yaitu saos berwarna coklat. Saya mencoba membeli saos cabe di supermarket setempat, namun setelah dirasa, rasanya agak asam dan tidak terasa cabenya. Berbeda dengan saos di Indonesia. Jadi bagi anda penggemar saos, bersiaplah kecewa jika makan ayam goreng. Anda tidak akan mendapat saos berwarna merah. Silahkan bawa sendiri saos dari Indonesia.

Di tengah perburuan saya untuk menemukan masakan yang cocok dan “aman” buat saya, saya menemukan masakan khas Cebu. Namanya Bulalo. Bulalo adalah sup tulang kaki sapi. Tulang kaki sapi ini dikelilingi daging yang harus dipotong dengan pisau. Uniknya, di sup ini ada potongan pisang! Potongan ini mirip seperti potongan pisang pada kolak. Rasanya enak dan pas di lidah saya. Dan tentu saja bulalo harus disantap dalam keadaan panas. Pasti makyusss! (bersambung….click here)

 

Mactan-Cebu, 7 February 2008

Artikel sebelumnya: MUDA-MUDI JUGA SUKA FORT SAN PEDRO