Tags

Bassilica del Santo Nino

Saat sampai di Basilica del Santo Nino, jam sudah menujukkan pukul 10 lewat. Jalanan sekitar gereja sesak sekali. Hari itu adalah hari Minggu, hari ke gereja untuk bagi umat Katholik. Memasuki area gereja, petugas sekuriti berkemeja putih, bercelana biru dongker dengan sigap memeriksa dan “meraba-raba” para pengunjung. Pakaian sekuriti di Cebu mirip pakaian satpam di Indonesia. Hanya saja mereka dilengkapi dengan pistol dan bahkan ada yang memegang senapan. Walaupun mereka bukan bagian dari polisi namun mereka mendapat latihan militer dan latihan menggunakan senjata api.

Di Cebu, pemeriksaan oleh security cukup ketat. Jika memasuki kantor, gedung, mall, public area, security akan memeriksa terlebih dahulu. Di bandara domestic Manila, jangan coba-coba anda memakai kaos kaki bolong, kecuali kalau tahan malu ya? Karena semua penumpang harus melepaskan sandal atau sepatu dan meletakkan sepatu di atas belt conveyor untuk diperiksa. Selanjut para penumpang tanpa alas kaki melewati gate dan mengambil sepatu atau sandal.

Saat masuk ke gereja, gereja telah penuh oleh umat yang akan bersembahyang. Terlihat ruangan gereja yang megah dan pada seluruh langit-langit gereja dilukis dengan lukisan yang menggambarkan perjuangan Yesus. Dari layar monitor yang terdapat pada sisi kiri dan kanan ruangan, diketahui bahwa misa berikutnya akan berlangsung pukul 11.30 siang. Keadaan seperti ini bagi saya adalah kerugian sekaligus menguntungkan. Merugikan karena gereja jadi sesak sehingga tidak leluasa bergerak. Menguntungkan karena saya jadi bisa melihat ritual dan antusiasme umat dalam gereja.

Bagi saya yang bukan beragama Katholik, ini adalah pengalaman pertama saya memasuki gereja dan pemandangan yang saya lihat di Basilica del Santo Nino cukup merupakan pemandangan yang mengejutkan. Saat misa dimulai, misa dibuka dengan nyanyian yang berisi puji-pujian dan keagungan. Nyayian dilakukan dalam bahasa Inggris dan pada layar monitor tampak tulisan yang merupakan teks dari lagu yang sedang dinyanyikan. Bagi umat yang baru datang pertama kali ke gereja ini dan belum mengetahui lirik lagu, teks ini pasti sangat membantu.

Di bagian kiri tempat para jamaah duduk mengikuti misa, ada ruangan dimana dapat dijumpai patung Yesus, Bunda Maria, dan tokoh suci Katholik lainnya. Patung tersebut ada yang ditempatkan berdiri di atas lantai dan adapula yang ditempatkan dalam kotak kaca yang digantung. Para pengunjung mengusap-usap kaca, yang di dalamnya ada patung, dengan sapu tangan untuk kemudian diusapkan kembali ke mukanya sendiri atau ke muka anaknya. Tujuannya agar mereka mendapat berkah dari sang tuhan. Sebuah patung yang berdiri I atas lantai tanpa ditutupi kaca, juga tak luput mendapat usapan sapu tangan dari para umat. Sampai-sampai tangan patung itu sampai berubah warna karena lapisan atasnya sudah mengelupas akibat terlalu sering diusap-usap.

Antrian umat menuju patung Santo Nino

Hal menarik lainnya adalah panjangnya antrian umat untuk dapat berdoa di depan patung Santo Nino. Selain berdoa mereka juga mengusap-usap kaca tempat patung Santo Nino disimpan. Patung Santo Nino ini terletak disebelah kiri bagian depan gereja. Untuk bisa mencapai area ini, para umat harus mengantri mulai dari pintu masuk gereja sebelah kiri, berbelok ke kiri, menyusuri lorong arah depan gereja sampai akhirnya berbelok ke kanan menuju tempat patung tersebut berada. Antrian ini panjang bisa mencapai sekitar 60 meter, dimulai dari pintu masuk sampai ke tempat patung. Bagi umat yang malas mengantri, mereka bisa menitipkan sapu tangan atau kamera kepada security yang berjaga di sekitar patung. Security itu akan membantu mengusapkan sapu tangan ke kaca atau memotret patung untuk diberikan kembali kepada para umat. Di tengah bangunan gereja terdapat 2 air pancur. Banyak sekali koin peso terlihat pada dasaran kedua air pancur itu. Rupanya para umat senang melempar koin ke arah air mancur supaya harapan (wish) mereka dapat terkabul.

Terletak di bagian luar gereja terlihat sebuah tempat berbentuk U yang dipenuhi dengan lilin merah. Lilin-lilin merah tersebut tersedia dalam box kayu. Jumlahnya mungkin sekitar lebih dari 10 box yang berisi ratusan lilin pipih berwarna merah untuk setiap boxnya. Yang dilakukan di area ini adalah, umat mengambil lilin pipih merah yang terdapat dalam box kayu berbentuk persegi empat. Jumlah lilin merah yang diambil terserah, bergantung keinginan orang tersebut. Lilin lalu dinyalakan dan umat lalu berdoa memohon kepada tuhan. Di area ini dilarang memotret dengan blitz karena dianggap akan mengganggu kekhusyukan umat yang berdoa.

Di area yang sama dengan gereja, sebenarnya terdapat sebuah museum. Namun sayang, saat itu museum sedang tutup sehingga saya beranjak menuju Magellan Cross. (bersambung…..click here)  

 

Mactan-Cebu, 5 Februari 2008

Artikel sebelumnya: FERDINAND MAGELLAN, HERO OR ENEMY?