Tags

Lapu-Lapu Monument

Saya memulai perjalanan pertama saya menuju Lapu-Lapu Monument. Lapu-Lapu adalah nama dari penduduk asli Cebu yang berhasil membunuh Ferdinand de Magellan pada 27 April, 1521. Perjalanan dari Mactan ke Lapu-Lapu Monument memakan waktu sekitar 15 menit dan cukup menggunakan 1 kali angkutan jeepney dengan tarif 7 – 8 peso.

Sepanjang perjalanan saya mengamati lingkungan daerah yang dilewati. Saya melewati laut yang kelihatan dangkal mungkin karena reklamasi. Melewati pula MEPZA, sebuah kawasan berikat di Mactan yang dipenuhi pabrik-pabrik industri. Semakin menuju Lapu-Lapu Monument, unsur-unsur kota semakin hilang dan unsur desa semakin menguat. Sepanjang perjalanan, tak jarang saya melihat orang-orang yang bermain bola basket. Bola basket olahraga paling digemari di Phillipina. Tak sekalipun saya melihat orang yang bermain sepakbola apalagi bulutangkis. Berita olahraga di koran lokal pun didominasi olahraga bola basket, bukan sepakbola seperti hal koran-koran di Indonesia. Sepakbola dan bulutangkis memang bukan olahraga popular di Philipina. Dalam pandangan saya selama perjalanan di Lapu-Lapu City secara umum, dibandingkan dengan Semarang, menurut saya Semarang relatif lebih bersih dan tertata. Namun demikian, tak sekalipun saya melihat pengamen di kendaraan umum atau di lampu merah, satu hal yang sangat mudah ditemukan hamper di sebagian besar kota di Indonesia.

Magellan Monument

Sampailah saya di Lapu-Lapu Monument. Ada 2 monumen di areal ini yaitu Magellan’s Monument dan Lapu-Lapu Monument. Areanya dikelilingi dengan pagar bercat putih. Ada jalan untuk para pengunjung yang di kiri-kanannya terdapat taman asri yang cukup terawat. Terdapat pula beberapa pohon kelapa yang menjulang tinggi menambah keteduhan. Pada pintu masuk monumen terdapat jam digital yang menunjukkan waktu setempat. Dari pintu masuk tampak berdiri Magellan Monument. Pada satu sisinya yang menghadap pintu masuk tertulis A HERNANDO DE MAGALLANES, sedangkan di sisi belakangnya terdapat tulisan 1866 REINANDO YSABEL II. Di belakang monumen ada bangunan yang di dalamnya terdapat prasasti mengenai cerita Lapu-Lapu yang berhasil mengusir Magellan dan tentaranya. Pada bagian belakang prasasti tergantung sebuah lukisan yang mengisahkan perjuangan Lapu-Lapu melawan tentara Magellan.

Dari pintu masuk pengunjung harus berbelok ke kiri menuju monumen yang kedua, Lapu-Lapu Monument. Patung Lapu-Lapu berdiri gagah dengan ikat kepala, bertelanjang dada, dan mengenakan celana seperti yang dikenakan pemain sumo. Ia memegang pedang di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Inilah deskripsi pahlawan gagah berani kebanggaan rakyat Cebu. Bagi masyarakat Cebu, Lapu-Lapu adalah pahlawan. Sedangkan saat saya tanyakan bagaimana pendapat mereka tentang Ferdinand Magellan, pendapat mereka terbagi. Sebagian menganggapnya sebagai musuh, oleh karenanya ia dibunuh oleh Lapu-Lapu, dan sebagian lagi tidak tahu harus menempatkan Magellan sebagai apa. Tapi mereka semua sepakat bahwa Magellan adalah penyebar Katholik di Cebu.  (bersambung….click here)

 

Mactan-Cebu, 4 Februari 2008

Artikel sebelumnya; MENJADI “PENUMPANG PLUS” JEEPNEY