Tags

Jeepney

Hari Minggu, 3 Feb, cuaca terlihat cerah di Cebu. Saya memutuskan untuk keluar hotel untuk jalan-jalan melihat-lihat kota Cebu dan sekitarnya atau mengunjungi tempat wisata dan bangunan bersejarah. Untuk jalan-jalan di kota, saya memilih naik angkutan kota Cebu. Namanya jeepney. Melihat jeepney, saya jadi teringat dengan angkutan umum di kota Medan bernama Sudako.

Jeepney adalah angkutan dalam kota dimana penumpangnya duduk di bagian belakang dengan posisi saling berhadap-hadapan. Pada jeepney ukuran kecil dan sedang, di bagian depan mobilnya tertulis Suzuki atau Isuzu. Sedangkan yang berukuran besar dan panjang merupakan kendaran buatan pabrik lokal. Penduduk setempat menyebutnya dengan sarao. Pintu naik bagi penumpang tidak terletak di bagian samping tetapi di bagian belakang. Antara supir dan penumpang dibatasi oleh dinding besi yang di bagian tengahnya terdapat jendela. Jika penumpang ingin membayar ongkos, maka uang akan diberikan lewat jendela tersebut. Supir akan memberikan kembalian uang juga melalui jendela itu.

Sebagian jeepney terlihat terawat dengan baik. Catnya mulus mengkilap dan dilengkapi dengan asesoris tambahan seperti lampu kabut yang tersusun berderet-deret di atas atap kabin supir. Jumlahnya bervariasi antara 4 – 8 lampu. Di atas atap penumpang bagian belakang juga terdapat lampu kabut yang jumlahnya juga bervariasi. Masih belum cukup, asesoris itu masih ditambahi dengan klakson yang biasa digunakan penjual es jaman dulu yang terdiri dari karet hitam yang berbentuk bola dan menyatu dengan corong memanjang dari besi. Jika karet hitam berbentuk bola itu dipencet, maka suara klakson akan terdengar nyaring.

Ketika menaiki jeepney, saya memilih duduk dekat jendela yang membatasi ruang sopir dan ruang penumpang. Tujuannya agar saya bisa bertanya tentang tempat tujuan. Maklum status saya saat itu adalah orang asing di tanah orang dan kata orang kalau malu bertanya sesat di jalan. Lebih parah lagi kalau malu bertanya nggak bakal nanya dan akhirnya nggak jalan-jalan.

Sarao

Selama perjalanan, saat sedang melihat-lihat dan menikmati perjalanan menggunakan jeepney, tiba-tiba ada penumpang yang mengetuk-ngetuk koin peso ke besi pegangan tangan dekat bagian atap jeepney tanda minta berhenti. Tanpa diduga ia memberikan koin peso tersebut pada saya. Saya tentu saja bingung, tidak mengerti apa maksudnya. Dalam kebingungan itu, penumpang itu menatap saya sambil menggerakkan kepalanya ke arah sopir. Saya pun akhirnya mengerti bahwa ia meminta saya agar memberikan koin itu ke supir. Jarak ruang penumpang dari dinding pembatas ke pintu masuk penumpang sekitar 2 – 3 meter. Karenanya, penumpang yang duduk di bagian dekat pintu tidak akan bisa memberikan ongkos ke jendela. Untuk itulah orang yang duduk dekat jendela mempunyai tugas tambahan memberikan ongkos dari penumpang ke supir dan juga memberikan uang kembalian supir ke penumpang. Jadi sudah merupakan aturan tidak tertulis bahwa jika anda naik jeepney dan duduk dekat jendela pembatas antara supir dan penumpang, maka anda adalah “penumpang plus”, yaitu sebagai penghubung ongkos antara penumpang dan supir. Pembayaran ongkos angkot di Cebu selalu dilakukan melalui jendela itu.

Maka jadilah saya sebagai “penumpang plus” dengan tugas tambahan memberikan uang atau kembalian dari penumpang atau supir selama perjalanan dari Mactan ke Lapu-Lapu Monument. Tarif minimal jeepney adalah 5 peso per orang tergantung jauh-dekatnya jarak yang ditempuh. (bersambung….click here)

 

 Mactan-Cebu, 3 Februari 2008

Artikel sebelumnya: SEKILAS TENTANG CEBU