Tags

Jika sebelumnya saya sudah menulis mengenai makanan, maka biar adil saya juga tulis pengalaman saya tentang minuman.

Saya tidak menyukai teh di Amerika. Pernah saya memesan sweet ice tea namun rasanya bukannya sweet tapi agak asam. Selain itu, rasanya tehnya tidak begitu enak. Jauh lebih enak teh Indonesia. Saya jadi mengerti mengapa Preston Abernathy, orang Amerika yang menjabat Operational Director salah satu sister company, begitu senang saat saya beri 2 kotak teh Tong Tji saat berkunjung ke Semarang. Ia sampai cerita ke saya kalau teh tersebut ia bawa ke Amerika dan anak-anaknya sangat suka dengan teh Tong Tji tersebut. Sejak saat itu, setiap kali berkunjung ke Semarang, saya sempatkan untuk memberinya 2 kotak Teh Tong Tji sebagai oleh-oleh. Terkait dengan rasa teh Amerika yang tidak karuan, hanya sekali itu saja saya memesan teh.

Saya tidak minum kopi dan berpantang minum yang berkadar alcohol. Karena ice tea bukan pilihan yang tepat, maka soft drink adalah pilihan yang tersisa. Selain halal, lidah juga sudah familiar dengan rasanya. Cuma jika di bar, jangan kaget jika rasa soft drink seperti cola rasanya agak berbeda. Ini karena soft drink cola tersebut disajikan di gelas tidak lewat dispenser tapi disemprot lewat gun yang ada selangnya sehingga rasanya sedikit lain dari yang biasanya. Ada keuntungan lain jika memesan soft drink di restoran atau bar. Bayar sekali tapi bisa minum berkali-kali!

picture taken from http://www.detroitcity.com

Di restoran cepat saji seperti MacDonald’s, Subway, atau KFC, minuman diambil sendiri oleh pembeli. Jadi mau bolak-balik 10 kali ambil minum juga nggak masalah wong bayarnya cuma sekali. Tipsnya, jika nyobain beberapa soft drink yang nggak ada di Indonesia, saat mengambil minum, gelas diisi soft drink setengah atau secukupnya saja. Kalau sudah habis, isi lagi dengan soft drink lainnya, begitu seterusnya. Tips ini saya lakuan saat ingin tahu rasa soft drink seperti Mountain Dew atau Dr Pepper.

Kalau kita makan di restoran atau di bar, jika kita memesan soft drink, sebaik gelas kita kosong, pelayan akan datang untuk menawarkan apakah minumnya ingin ditambah atau tidak. Jika kita jawab ya, ia akan segera memberikan gelas baru. Trus kalau gelasnya kosong lagi, si pelayan akan datang lagi dan menawarkan minuman lagi, begitu seterusnya sampai kita bilang, “No, thanks.” Pernah satu ketika, saat saya makan di Longhorns Steak House, si pelayan begitu sigapnya melayani. Begitu gelas kosong, langsung dia datang. Kosong lagi, dia datang lagi, terus begitu. Saat gelas ketiga kosong, dia masih datang bertanya apakah mau ditambah minumnya. Saya yang sudah kenyang dengan steak dan soft drink, sambil mengangguk langsung jawab, “Enough, thanks.” Jawab si pelayan, “Wait for a minute, Sir. Take your time.” Tak lama dia sudah datang lagi dengan segelas cola. Ternyata dia lebih memperhatikan anggukan kepala saya daripada omongan saya. Ya, sudahlah, toh gratis ini alias tak ada uang tambahan yang perlu saya keluarkan untuk tambahan soft drink tersebut

Di restoran dan bar-bar, minuman yang paling lazim dan sering di pesan adalah bir. Bos saya yang memang tidak punya pantangan dengan alcohol selalu memesan bir setiap kali ke bar atau restoran. Sekali minum, pada akhirnya bisa menghabiskan 4-5 botol bir. Bagi saya yang pantang dengan alcohol, bir tentu tidak masuk dalam list saya. Tapi pernah saya coba memesan bir yang bernama O’doul’s. Saat saya pesan, si pelayan yang mukanya mirip Kevin Bacon balik nanya ke saya, “Are you sure?”  tanyanya dengan muka heran. Mungkin tak banyak yang mau memesan bir yang diklaim sebagai bir non-alcohol. “Yes, sure”, jawab saya mantap. Tak lama bir O’doul’s datang. Sebelum minum, saya lihat content-nya. Ternyata, walaupun diklaim sebagai bir non-alcohol, O’doul’s mengandung 0.5% alcohol. Akhirnya nggak jadi minum. Bir saya berikan ke bos saya. Minuman saya, soft drink lagi, soft drink lagi hehe….

Jika saya memilih soft drink sebagai minuman, pilihan minuman itu sebenarnya pilihan moderat. Pilihan yang “aman”. Aman karena halal, aman karena familiar dengan rasanya, dan aman karena ini pilihan yang umum, nggak terlalu aneh. Teman saya jauh lebih punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi dibanding saya saat memesan minuman. Di sebuah bar yang pengunjungnya hampir 100% memesan minuman ber-alcohol, teman saya dengan lantang memesan, “Chocolate milk, please! Do you have hot chocolate milk?” Si pelayan yang awalnya agak bengong, langsung nyamber, “Of course, I can boil it!”. Saya lihat bos saya langsung menutupi mukanya, sementara si pelayan menyungging senyum bagaikan senyuman Monalisa. Enjoy your hot chocolate milk, Sir!

 

Banyumanik, 29 Agustus 2010