Tags

Soal makan di negeri orang itu perkara gampang-gampang susah. Gampang jika kita tidak terlalu pilih-pilih dalam hal makanan. Susah, kalau kita banyak pantangan dan banyak maunya. Jika berada di negara yang mayoritas bukan muslim, yang saya perhatikan dalam memilih makanan adalah kehalalannya. Memang jika pork dimasukkan dalam daftar yang pantang dimakan, maka bisa dibilang hanya tersisa sekitar 40% dari daftar menu yang bisa dipilih. Selain itu juga perlu diperhatikan campuran memasaknya. Bisa jadi, walaupun masakannya tidak mengandung pork namun tetap saja tidak halal karena menggunakan wine saat memasaknya. Jadi memang harus benar-benar teliti dan harus rajin bertanya pada pelayannya. Selanjutnya, ya jangan lupa baca bismillah saat makan karena jikalau pun masih tercampur dengan zat yang tidak halal, minimal kita masih mengingat ALLAH dan semoga ia mengampuni atas kesalahan di luar jangkauan kita.

Selain soal halal, hal lain soal kecocokan di lidah. Lidah kita ini kadang suka rindu dengan masakan di Indonesia. Saat di US, rekan saya sampai coba nyari mie instant di mini market SPBU dekat hotel. Herannya, penjualnya nggak familiar dengan mie instant walau sudah dijelasin oleh rekan saya. Waktu ia bisa menemukan mie instant cup keluaran Nissin di mini market SPBU yang letaknya ratusan mil dari hotel, rekan saya senangnya minta ampun. Di luar masalah halal dan selera, ya soal harga. Biasanya, sekali makan kami menghabiskan USD 80-100 untuk berempat. Rata-rata harga masakan sekitar USD 15 per porsi. Ditambah minuman, apalagi jika minuman beralkohol (yang pasti lebih mahal dari soft drink), totalnya seperti yang saya sebutkan tadi. Lumayan mahal jika dikonversi ke rupiah. Kalau mau irit makan di restoran fast food karena harganya jauh lebih murah.

Terkait dengan lidah pula, orang Indonesia itu kurang afdol kalau makan tidak dengan nasi. Parahnya, American style restaurant pasti tidak menyediakan nasi. Kalau mau nasi, pergi ke restoran Meksiko. Di Amerika saya sempat 2 kali makan di restoran Meksiko Mi Pueblo. Saya sih nggak terlalu masalah nggak makan nasi. Motivasi saya ke restoran Meksiko adalah masakannya yang spicy dan hot. Menu yang saya pesan adalah Mi Pueblo Especial. Sambil menunggu masakan tiba, kami disuguhi sejenis pangsit yang makannya dicocol dengan sambal. Rasanya, sambal cocolannya tidak terlalu pedas buat saya. Buktinya, sambal sudah habis satu botol, pangsitnya masih sisa!

Mie Pueblo Especial

Menu yang saya pesan datang, Mi Pueblo Especial. Menu ini terdiri beef steak, chicken steak, sedikit nasi (kayak nasi goreng), bumbu salad, dan pangsit yang berbentuk mangkuk yang diisi dengan salad. Di dalam pangsit mangkuk ini juga diberi jalapenos, cabe Meksiko yang katanya pedas banget. Rasa Mi Pueblo Especial memang OK banget dan mengenyangkan. Tapi spicy dan hot-nya tidak seperti yang saya bayangkan. Masih lebih spicy dan hot masakan Padang lho. Bahkan cabe jalapenos, yang katanya pedas banget, menurut saya masih lebih pedas cabe rawit. Entah memang kadar pedas masakan Meksiko cuma segitu atau karena sajian menu restorannya, saya tidak tahu pasti.

Selesai makan di Mi Pueblo, ketika menuju parkiran mobil, sebuh mobil pick up berhenti di dekat kami. Ada sepasang cowok-cewek di dalam mobil. Dengan muka melas, si cowok menghiba-hiba agar ia dibantu karena anaknya sedang di rumah sakit dan ia perlu uang untuk membeli bensin. Karena itu ia minta kerelaan agar kami bisa memberinya 100 dollar. What!! Orang ini kok ya nggak kira-kira. Minta orang nyumbang kok sampai 100 dollar! Dikiranya 100 dollar itu sedikit apa. Si orang ini akhirnya cuma diberi 10 dollar plus ucapan good luck. Sambil mengucapkan thank you, mobil pick up itu langsung ngacir.

Ada-ada saja orang Amerika. Ngemis aja minta 100 dollar. Mana ngemisnya pakai mobil lagi. Ini mungkin model pengemis di negara maju kali ya, ngemis American style. Kalau di negara berkembang, pengemis jalan kaki dan minta recehan, di negara maju, pengemisnya juga lebih maju. Pakai mobil dan minta 100 dollar. Ampun deh….!!!

 

Banyumanik, 31 Mei 2010