Tags

High Rock Lake

Setelah makan malam yang menegangkan di KFC dekat hotel, esoknya, Minggu pagi, kami diberitahu untuk bersiap-siap. Kami diundang untuk datang ke rumah Marcell Lomax. Marcell adalah Vice President of Information Technology dari Furniture Brand International (FBN), perusahaan induk tempat saya bekerja. Beberapa hari sebelumnya saya sudah bertemu dengan Marcell di kantornya dan selama pameran pada akhir Oktober 2009. Beberapa kali Marcell juga pernah ke Indonesia berkunjung ke kantor tempat saya bekerja. Selama perjalanan menuju rumah Marcell, saya diberitahu bahwa rumah Marcell terletak di lokasi dengan pemandangan nan indah. Sebagai seorang penikmat jalan-jalan, informasi tersebut tentu membuat saya penasaran dan antusias.

Perjalanan menuju rumah Marcell di Lexington dari hotel tempat saya menginap di Clemmons ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit. Kalau di Indonesia saya yakin jarak tersebut bisa ditempuh dengan waktu dua kalinya. Jalan-jalan di High Point relatif sepi. Hampir tak pernah ada kemacetan. Kalau pun ada kemacetan biasanya disebabkan oleh kecelakaan. Dan saat memasuki High Rock, tanda-tanda keindahan itu mulai tampak. Mobil memasuki jalan yang tidak begitu lebar yang di kanan-kiri jalan ditumbuhi oleh pohon-pohon tinggi dan rindang dengan daun yang berwarna hijau, kuning, orange, dan merah. Jujur saja, selama di Amerika saya demen banget lihat pohon yang daunnya berwarna-warni. Dugaan saya pepohonan tersebut adalah pohon maple. Jalanan dipenuhi oleh daun-daun kering yang gugur dan berserakan memenuhi jalan. Saat itu memang musim gugur.

Mobil melaju terus, melewati pepohonan hingga sampai pada pemandangan yang lebih terbuka dan luas. Saat itulah saya melihat sebuah rumah yang tak terlalu besar yang dikelilingi oleh padang rumput hijau yang luaaas sekali. Di samping rumah terdapat pohon besar nan rindang. Di padang rumput nan luas itu tampak beberapa kuda yang sedang merumput. Di samping rumah terdapat danau yang semakin menambah kekaguman saya akan indahnya pemandangan yang tampak di hadapan mata. Ingin rasanya berhenti dan memotret pemandangan indah itu. Tapi itulah salah satu nggak enaknya kalau jalan sama boss, nggak enakan kalau mau minta berhenti. Dia sudah sering ke tempat itu dan apa yang saya lihat sudah terbiasa olehnya. Maka jadilah saya melewatkan pemandangan indah yang luput didokumentasikan.

Akhirnya sampai juga kami di rumah Marcell sekitar tengah hari. Saat sampai, saya sempat bingung, nih rumah kok tampak depannya aneh banget ya, guman saya dalam hati. Saya terus berjalan mengikuti rekan yang lain dan akhirnya saya baru paham letak dari rumah tersebut. Yang saya lihat tadi adalah bagian belakang rumah Marcell. Bagian belakang rumahnya memang menghadap ke jalan. Lho kok? Ya, karena bagian depan rumah Marcell menghadap ke danau! High Rock Lake namanya.

Bagian depan di sisi samping rumah terdapat meja dan beberapa kursi untuk duduk-duduk dan minum-minum sambil menikmati keindahan danau. Terdapat pula pohon-pohon menjulang dengan daun yang berwarna-warni. High Rock Lake luasnya 61 km2 dan merupakan danau terluas kedua di North Carolina setelah Norman Lake. Nama High Rock diambil dari nama gunung yang berada di sekitarnya yaitu High Rock Mountain yang merupakan gunung tertinggi di Uwharrie Mountain.

Dale, suami Marcell, langsung menyambut kami dengan ramah. Tak lama Marcell turun dari lantai 2. Kelihatannya ia baru bangun tidur karena semalaman habis kongkow-kongkow. Saya minta ijin untuk shalat zuhur. Dan setelah itu, Dale dan Marcell, mengajak kami untuk naik boat mengitari danau. Rumah ditinggal tanpa dikunci, persis seperti yang saya lihat di film-film Amerika. Kirain cuma di film doang, ternyata beneran ada juga, toh. Kami segera menuju dermaga tempat boat diparkir. Hampir semua rumah yang berada dalam deretan rumah Marcell memiliki dermaga untuk menyandarkan boat.

Saat menaiki boat dan boat berjalan pelan menuju tengah danau, udara dingin mulai menusuk. Saya sudah membentengi badan dengan jaket dan beanies. Namun tetap saja kedinginan karena suhu saat itu sekitar 8-10 derajat celcius. Semakin menjauhi rumah Marcell, semakin nyata kalau High Rock Lake adalah danau yang luas dan semakin kuat pula angin berhembus dingin menusuk badan manusia tropis yang biasa diterpa sinar matahari. Benar-benar dingin, padahal saat itu tengah hari. Di pinggir danau berderet rumah dengan segala bentuknya. Rumah-rumah dengan pekarangan luas dikelilingi oleh pepohonan beraneka warna. Benar-benar cocok sebagai rumah peristirahatan. Sekitar 1 jam lebih kami mengitari High Rock Lake dengan boat sebelum akhirnya kembali ke rumah Marcell.

Dulu waktu tinggal di Aceh Timur, saya pernah mancing seharian di tengah laut dekat Selat Malaka. Pulang-pulang kulit jadi gosong. Rafting tengah hari walau cuma 2 jam, sudah cukup bikin kulit hitam dan “ganti kulit” beberapa hari. Berada di High Rock Lake saat tengah hari bolong, kami malah harus pakai jaket tebal dan masih kedinginan pula. Selain itu, tak perlu takut kulit jadi gosong. Memang, lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain danau lain cuacanya!

 

Banyumanik, 23 May 2010