Tags

Jika saya sedang punya kesempatan ke luar negeri, ada satu peralatan yang selalu saya bawa. Kompas! Bukan karena saya takut tersesat saat berada di negeri orang yang tidak saya kenal. kompas saya gunakan untuk menunjuk arah kiblat saat ingin shalat. Pertanyaannya, ke mana arah kiblat saat kita ada di suatu negara di luar negeri? Apakah arah kiblat juga menghadap ke barat juga? Logikanya, jika arah kiblat adalah posisi dari keberadaan Ka’bah di Mekkah, maka beda negara bisa jadi beda arah kiblat karena letak tiap negara berbeda-beda. Lalu kemana arah kiblatnya?

Saat akan pergi ke Cebu, Philipina, saya mencoba browsing internet untuk mencari kemana arah kiblat jika ada di kota ini. Entah karena kata kunci yang kurang tepat, yang jelas saya telah mencoba beberapa kali dan masuk ke beberapa situs, tidak saya temukan informasi mengenai arah kiblat ini. Akhirnya dengan modal bismillah, saya menentukan arah kiblat dengan “metode kira-kira” dengan membandingkan letak Cebu, Indonesia, dan Mekkah.

Ada hal menarik saat saya beradi di Cebu, Philipina. Ada kota bernama Lapu-lapu City yang diambil dari nama kepala suku Cebu, Lapu-lapu, yang dikenal sebagai orang Philipina pertama yang menentang keberadaan Ferdinand de Magellan. Magellan adalah penjelajah Spanyol sekaligus seorang misionaris Katholik yang dianggap sebagai penyebar ajaran Katholik di Cebu dan Philipina sehingga agama ini akhirnya menjadi agama yang dianut oleh mayoritas penduduk di Philipina.

Lapu-lapu bersama pasukannya berperang mengusir pasukan Magellan, namun ia tewas dalam pertempuran tersebut. Lapu-lapu sendiri adalah kepala suku yang beragama Islam. Saat saya bertanya pada seorang senator di Cebu apa pendapatnya mengenai Lapu-lapu dan Magellan, ia menjawab bagi orang Cebu, Lapu-lapu is a hero dan Magellan is enemy. Namun ia melanjutkan, jika tidak ada Magellan, dia mungkin akan menjadi seorang muslim seperti saya, katanya pada saya. Jadi orang Cebu itu mencintai Lapu-lapu yang seorang muslim, membenci Magellan, namun berterima kasih kepada Magellan sebagai penyebar agama Katholik yang mereka anut sekarang.

Saat ada tugas kantor Amerika, saya kembali search di Google untuk mendapat arah kiblat. Kali ini saya berhasil menemukan situs yang dimaksud. Nama situsnya http://prayer.al-islam.com. Selain menunjukkan arah kiblat, situs ini juga menginformasikan waktu shalat. Saat sudah masuk ke situs ini, kita tinggal menuliskan nama negara dan nama kota. Masukkan juga tanggal, bulan, dan tahun. Tersedia juga pilihan metode perhitungan waktu shalat yang bisa dipilih. Pada kolom di bawahnya, ada 2 pilihan mazhab, Hanafi dan Syafi’i. Sedangkan pilihan tampilan print out bisa dipilih tampilan harian (daily) atau bulanan (monthly). Jadi bagi anda yang ingin mengetahui arah kiblat dan waktu shalat, berkunjungkah ke situs ini.

Ngomong-ngomong tentang shalat saat berada di negeri yang bukan mayoritas muslim, kendalanya ada pada saat wudhu’. Toilet di Amerika dan Eropa adalah toilet jenis kering jadi tidak tersedia kran pancuran kecuali yang ada di wastafel. Akhirnya saya lebih sering bertayamum jika akan shalat. Kendala lain adalah saat hendak shalat Zuhur dan Ashar. Shalat subuh bisa dilakukan di hotel. Shalat Maghrib bisa digabung dengan shalat Isya sehingga juga bisa dilakukan di hotel saat malam hari. Saat waktu Zuhur dan Ashar, biasanya kita ada di luar hotel. Beruntung, aktivitas saya pada jam tersebut berada di kantor sehingga shalat tetap mudah dilakukan. Di Amerika, saya tidak menemukan area publik yang menyediakan tempat shalat termasuk di Bandara Dulles Washington DC. Tidak sekalipun juga, saat itu, saya melihat wanita berjilbab.

Saat saya berada di Charlotte, Amerika, arah kiblat shalat ke arah timur laut. Waktu shalat di Charlotte, saat itu (Oktober 2009) tidak jauh berbeda dengan dengan waktu shalat di Indonesia. Yang agak berbeda jauh dengan Indonesia, saat saya ada di London. Arah kiblatnya adalah tenggara. Waktu shalat Subuh dan Zuhur saat itu (awal Nov 2009) masih sama dengan Indonesia, yaitu sekitar jam 5 pagi dan jam 12 siang. Tapi waktu shalat ashar-nya jam 2 siang, Maghrib jam setengah 5 sore, dan Isya jam setengah 7 malam.

Di Bandara Heathrow, London, tersedia prayer room untuk shalat. Beberapa kali saya melihat petugas bandara yang mengenakan jilbab. Hal yang sama juga saya lihat di kota London, saat beberapa kali terlihat para wanita berjilbab. Saat ingin shalat subuh di Heathrow, saya mendekati seorang wanita gemuk berjilbab. Perkiraan saya ia imigran dari India atau Pakistan. Dengan sopan saya bertanya di tempat shalat. Lalu dijawab, “go outside, upstairs!” Singkat, ketus, dan tidak bersahabat nada jawabannya. Memang. melaksanakan shalat di negeri orang, selain butuh niat juga membutuhkan kesabaran.

 

Banyumanik, 11 April 2010