Tags

,

 

Craven Cottage

Stadion di Perumahan 

Inilah acara yang saya tunggu-tunggu sejak tiba di London. Menonton pertandingan English Premier League (EPL) langsung. Tidak menonton lewat TV, tapi langsung di stadionnya. Acara yang tidak boleh datang terlambat apalagi terlewat. Makanya nggak apa-apa deh bela-belain nggak mandi asal bisa nonton English Premier League langsung. Kami berempat; saya, Stephanus, boss saya, serta Tony menuju Craven Cottage Stadium, markas kesebelasan Fulham, dengan taksi. Kick off akan dilangsungkan jam 15.00 WL (waktu London, maksudnya). Sekitar 10 menit dari Hotel Ibis, kami sampai di Craven Cottage Stadium. Awalnya saya heran, kenapa taksinya berhenti di perumahan. Kami masih harus berjalan kaki sekitar 75 meter. Namun kemudian, barulah saya sadar, ternyata stadion letaknya memang di sekitar perumahan. Dikirain Stadion Jati Diri Semarang doang yang letaknya dekat perumahan. Ternyata di London yang sepak bolanya jauh lebih maju daripada Indonesia, sami mawon

Saturday and Sunday in UK are football day. Stadion di semua kota akan dipadati penonton di hari itu. Demikian juga yang terjadi di Craven Cottage Stadium. Di pintu masuk stadion, penonton sudah berjejal, apalagi di loket penjualan tiket. Beruntung, Tony sebelumnya telah membelikan kami tiket sehingga kami tidak perlu antri membeli tiket. Ihwal kami menonton EPL ini bermula saat boss saya mengirim email kepada Tony bahwa kami akan sampai di London tanggal 31 October 2009. Karena pada tanggal tersebut hari Sabtu, Tony yang seorang football freak mengajak untuk menonton EPL. Maka jadilah ia membelikan tiket untuk kami bertiga. Dan beruntung bagi kami karena kami tidak perlu antri dan berdesakan membeli tiket di loket pada hari H. 

Setelah sukses melewati pintu masuk dengan selamat, mata saya harus awas mengikuti kemana jalannya Tony. Dengan ramainya kerumunan orang bule yang tinggi-tinggi besar itu (walaupun jika di rata-rata, dibanding dengan postur saya nggak terlalu jauh-jauh amat sih. Soalnya khan postur saya lebih tinggi dari Maradona ?!?), saya nggak ingin kehilangan jejak di tengah penonton yang berjubel. Di tiket yang saya pegang terdapat strip warna merah. Artinya saya akan duduk di tribun pendukung Liverpool. Dari 4 sisi tribun stadion, satu sisi tribun memang diperuntukkan hanya untuk supporter Liverpool sedangkan 3 tribun lainnya untuk pendukung tuan rumah. Mau tahu harga tiketnya? Saudara-saudara sebangsa dan sependeritaan, harga tiketnya 49 pounds atau setara dengan 735 ribu rupiah! Di Indonesia harga segitu saya bisa dapat seat VIP di Gelora Bung Karno plus masih dapat uang kembalian lagi yang bisa dijajanin untuk makan di restoran. Walaupun dengan harga segitu stadion tetap dipenuhi penonton. Dan harga 49 pounds itu belum seberapa. Big match antara tim-tim elit seperti MU, Arsenal, Chelsea, atau Liverpool, harga tiket bisa mencapai 80 pounds. Harga tiket sangat ditentukan siapa tim yang bertanding. Semakin elit timnya semakin mahal harga tiket masuk. Selain itu, London emang kota mahal! FYI, kencing di toilet umum aja harus bayar 3 penny alias sekitar 4500 rupiah. Padahal dengan suhu 10 derajat celcius, bawaannya pengin kencing mulu

 

49 Pounds untuk Menonton Berdiri  

Saat saya memasuki Craven Cottage Stadium, suasana stadion riuh rendah, mulai dari tepuk tangan, suit-suit (suara siulan maksudnya), teriakan fans, dan nyanyian! Pertandingan belum dimulai dan saya belum bisa berkonsentarasi sepenuhnya karena masih harus mencari tempat duduk Q-116. Artinya saya harus mencari row Q dengan nomor tempat duduk 116. Ternyata seat Q-116 letaknya ada di bagian agak depan sehingga jarak pandang ke lapangan cukup baik dan relatif dekat. Setelah menemukan seat, barulah saya bisa lebih berkonsentrasi melihat sekeliling Craven Cottage dengan tenang. Craven Cottage hanyalah stadion kecil. Kapasitas stadion 25.700 tempat duduk, tidak terlalu jauh berbeda dengan Stadion Jati Diri Semarang yang berkapasitas lebih kurang 21,000 penonton. Saya sempat meng-sms teman saya yang memang fans beratnya Liverpool. Tapi tidak ada balasan. Belakangan baru saya sadar kalau di Indonesia saat itu jam 10 malam. Dan saya baru sadar juga kalau teman saya itu masih pengantin baru, jadi tentu ada hal lain lebih urgent dikerjakan daripada menjawab sms saya.

 

Craven Cottage adalah stadion yang sederhana namun punya nilai histori tinggi. Sisi tribun belakang Craven Cottage berbatasaan dengan River Thames, sungai yang sangat terkenal di London. Dinding stadion didominasi oleh kayu. Di abad 18, tempat stadion sekarang dikelilingi oleh hutan dan dijadikan areal berburu. Willian Craven pada tahun 1780 membangun cottage pertama di area tersebut. Inilah asal-muasal nama Craven Cottage. Klub Fulham FC sendiri terbentuk pada tahun 1879 dan pada 1896 di area itu dibangun stadion sepakbola yang selanjutnya dikenal dengan nama Craven Cottage Stadium dan dijadikan markas bagi klub Fulham FC. Di dalam stadion berlaku aturan TIDAK BOLEH MEROKOK di seluruh area dalam stadion.

Tak lama kemudian para pemain Fulham dan Liverpool memasuki lapangan tanda sebentar lagi kick off. Mata saya langsung tertuju pada Fernando Torres. Saya juga langsung mengenali pemain Liverpool lainnya, Jamie Carragher. Lalu ada Youssi Benayoun. Sayang, Steven Gerrad cedera sehingga absen bermain di pertandingan itu. Fans Liverpool yang terkenal fanatik sudah bernyanyi sedari tadi sebelum pertandingan dimulai. Demi melihat para pemain masuk ke lapangan, suara mereka makin keras dan makin semangat. Saking semangatnya, selama pertandingan, hanya 15 menit saya bisa duduk. Selebihnya, selama 1,5 jam saya harus menonton berdiri akibat ulah para fans Liverpool yang semuanya menonton berdiri. Bayangin aja, sudah mahal-mahal beli tiket 49 pounds, ternyata harus berdiri pula. Beda sekali dengan para penonton tuan rumah. 3 tribun penonton yang diduduki oleh supporter Fulham, semua penontonnya duduk dengan manis. Diam-diam saya iri juga. Di samping itu, sebenarnya saya ini fans-nya MU dan tidak terlalu nge-fans sama Liverpool. Saya mendukung Liverpool karena berada di tengah kerumunan supporter Liverpool. Dalam hati, saya mendukung Fulham. Saat Fulham mencetak gol, hampir saja saya teriak kegirangan. Untung saya masih bisa menguasai diri. Kalau nggak, bisa-bisa saya digebukin kali!

Saat Liverpool tertinggal 1-3 dari Fulham, fans Liverpool di sekitar saya yang tadinya semangat bernyanyi, beberapa orang di belakang saya juga tetap semangat. Semangat meneriakkan kata-kata f**k jika pemain Liverpool berbuat kesalahan atau tidak berhasil membuat gol. Apalagi saat Jamie Caragher dikartu merah. Rafael Benitez, si pelatih juga tak luput dari makian. Sekitar 10 menit sebelum pertandingan usai, sebagian supporter Liverpool sudah beranjak meninggalkan stadion. Tapi sebagian lagi tetap ada yang bernyanyi sambil bertepuk tangan. Entah lagu apa yang dinyanyikan. Apakah menyanyikan lagu You Never Walk Alone yang merupakan lagu kebesaran Liverpool, entahlah saya tak tahu. Tapi yang jelas mereka bernyanyi tidak hanya satu lagu.  

Gratis Lagi, Gratis Lagi

Dan hasil akhirnya adalah 3-1 untuk Fulham. Tuan rumah Fulham menang, Liverpool kalah. Saya berada di tengah-tengah ribuan liverpudlian yang kecewa. Tapi tidak termasuk saya, lha wong saya ini fans-nya MU kok. Saya hanyalah orang yang menikmati suasana dan atmosfir pertandingan Liga Inggris. Beserta ribuan para liverpudlian lainnya kami keluar Craven Cottage Stadium melewati Bishops Park dengan berjalan kaki menuju Putney Bridge Approach. Jalanan di sekitar Craven Cottage macet total oleh ribuan football freak mirip fans-nya PSIS yang memacetkan Jatingaleh. Bedanya di sana, nggak ada fans yang nyegat mobil bak terbuka untuk mencari angkutan gratisan. Saat berjalan kaki di Bishops Park, saya merasakan kebahagiaan terwujudnya angan-angan sejak dulu tentang keinginan menonton EPL langsung dari stadion. Sambil kadang terheran-heran juga kok angan-angan itu bisa terwujud ya. Tuhan selalu punya rencana buat hambanya dengan cara-cara yang tidak terduga. Tidak ada rencana ke London, tidak ada rencana menonton EPL, tapi Tuhan telah menentukan kehendakNya sehingga saya bisa ke London dan bisa menonton EPL.

Akhirnya saya, Tony, Stephanus, dan boss saya sampai di Putney Bridge Approach. Lalu menyeberang jalan menuju Putney Brigde Underground Station. Kami akan naik tube, semacam kereta api bawah tanah. Putney Brigde Underground Station telah sesak oleh para penggila sepakbola. Berjejal kami memasuki underground station Ternyata kami bisa masuk bebas dan tidak perlu membayar ticket tube, alias gratis! Mungkin karena terlalu ramai dan sesak kali. Lumayanlah bisa irit. Tiket tube 4 pounds per orang (sekitar 90 ribu). Makin bertambah senang saya apalagi malam itu kami akan makan malam di restoran India. Tony Xantheas akan mentraktir kami malam itu alias saya bisa dapat gratisan lagi!!Viva EPL, viva MU, sorry Liverpool, viva gratisan!

  

Banyumanik, 3 January 2010  

photo-photo Fulham vs Liverpool lainnya….klik di sini