Tags

Bus Kota London

“Menurut perkiraan cuaca, besok akan hujan”, demikian Tony Xantheas mengingatkan kami saat kami berjalan kaki di Bishops Park menuju underground station sesaat setelah pertandingan Fulham vs Liverpool. Tentu ini bukan berita yang menyenangkan buat kami. Jika berniat berwisata jalan-jalan, hujan memang bukan pilihan yang diinginkan. Dalam hati saya berucap, toh itu cuma perkiraan yang bisa saja salah. Kami terus berjalan kaki malam itu menuju underground station karena Tony akan mentraktir kami makan malam di restoran India. Saya tidak begitu menghiraukan perkiraan cuaca esok hari karena malam itu saya ingin makan berhubung perut sudah lapar berat.

Minggu pagi, 1 Nov 2009, dari balik jendela Hotel Ibis di Earls Court saya melihat keluar. Benar saja, ternyata hujan rintik-rintik membasahi kota London pagi itu. Ternyata prakiraan cuaca kemarin benar adanya. Tapi toh cuma rintik-rintik, pikir saya. Saya dan teman saya tetap bertekan untuk keluar jalan-jalan. Jam 7 pagi setelah sarapan, kami bersiap keluar. Saat di lobby hotel, saya bertanya pada petugas hotel,

“How do I go to Buckingham Palace, by bus or by tube?”

“Easier by bus and stop in Hyde Park Corner then you can go to the palace by walking,” jawab petugas muda itu dengan aksen British yang khas.

 

Bus di London

Setelah mengambil brosur rute wisata yang ada di lobby hotel dan melihat-lihat brosur sebentar, kami pun keluar hotel menuju West Brompton Underground Station. Selain tiket untuk tube (kereta api bawah tanah), pembelian tiket bus juga dilakukan di underground station. Kami harus berjalan kaki sekitar 400 meter dari hotel. Karena hari itu hari Minggu, belum ada petugas yang datang pada jam segitu. Para penumpang yang masuk station cukup dengan menempelkan card seperti ATM untuk membuka gate masuk. Pembelian tiket dilakukan dengan komputer, mirip transaksi di ATM. Bedanya, kalau transaksi ATM mengeluarkan uang, di transaksi ini kita harus memasukkan uang ke mesin komputer tersebut. Setelah melihat para penumpang lain membeli tiket lewat komputer, kami pun mencoba sendiri mesin ini.

One Day Bus Ticket

Kami membeli tiket bus untuk 1 hari saja. Harganya 4 pounds, sekitar 90 ribu rupiah. Tiket bus juga bisa dibeli untuk periode yang lebih panjang. Untuk periode seperti ini, bentuk tiketnya seperti card ATM sementara tiket bus 1 hari cuma kertas biasa. Setelah mendapatkan 2 tiket kami menyeberang jalan dari station menuju halte bus. Di halte kami sempat bertemu dengan gadis Spanyol untuk bertanya-tanya bagaimana menggunakan tiket bus itu. Dengan bahasa Inggris bercampur aksen Spanyol, gadis ini menerangkan kepada kami berdua. Kebetulan ia pun menunggu bus yang sama dengan kami. Tak lama bus yang ditunggu pun datang. Kami bergegas naik. Saat itu hujan masih rintik-rintik

Bus-bus di London berwarna merah dan bertingkat (double decker). Cuma jangan salah, ada 2 jenis bus walaupun sama-sama bertingkat dan (umumnya) berwarna merah. Yang kami naiki adalah bus yang atapnya tertutup sedangkan bus satunya dengan atap terbuka (open top). Perbedaannya pada jurusan dan harga. Bus dengan atap tertutup adalah bus kota dengan berbagai jurusan di kota London dan sekitarnya. Sedangkan bus dengan atap terbuka (open top) adalah bus dengan tujuan berbagai tempat wisata di sekitar London. Tarifnya sekitar 9-12 pounds. Penumpang boleh naik-turun sesukanya di tempat-tempat wisata yang ingin dikunjungi.

Bagi yang mempunyai tiket bus seperti ATM, cukup menempelkan card tersebut pada reader dekat pintu masuk bus. Kami yang memegang tiket bus 1 hari, cukup menunjukkan tiket pada supir bus. Supir bus cuma melihat tanggal yang tertera pada tiket untuk memastikan apakah tiketnya masih valid atau sudah kadaluwarsa. Pada prakteknya, jika kita naik bersama rombongan penumpang lain yang memegang tiket card, supir bus tidak terlalu memperhatikan saat saya menunjukkan tiket bus 1 hari. Dengan tiket bus 1 hari ini kita bisa menaiki bus jurusan manapun sesuka hati dan berkali-kali tanpa harus membayar lagi asalkan masih di tanggal yang sama dengan tanggal pada tiket.

Bus kota di London cukup baik dan bersih. Jika ingin leluasa melihat-lihat kota, penumpang bisa memilih tempat duduk di lantai atas bus yang bertingkat. Kalau sudah tahu di mana akan turun, nggak perlu takut kelewatan karena bus selalu memberitahukan tempat pemberhentian lewat speaker. Mirip kalau naik busway lah di Jakarta. Melalui speaker bus, kami mendengar halte selanjutnya adalah Hyde Park Corner. Kami pun bersiap-siap.

Saat turun di halte bus Hyde Park Corner, hujan semakin deras. Tak ada pilihan lain selain berteduh di halte. Kami belum tahu ke arah mana jika ingin ke Buckingham Palace dari Hyde Park Corner. Sementara itu makin lama hujan makin deras disertai angin. Udara London yang memang sudah dingin, bertambah dingin dengan turunnya hujan. Ditambah lagi angin yang bertiup kencang. Temperatur mungkin sekitar 8 derajat celcius. Saya bertarung hebat melawan dinginnya pagi itu. Di halte cuma kami berdua. Kami seperti terperangkap oleh hujan, angin kencang, dinginnya udara yang menusuk tulang, tak tahu ke arah mana Buckingham Palace, sementara tak ada orang yang bisa ditanyai!

(bersambung)….klik di sini

Banyumanik, 23 Januari 2010

 

About these ads